3 Permasalahan Cara Budidaya Sapi Pedaging

Budidaya sapi merupakan suatu hal yang patut mendapatkan perhatian. Salah satu indikator keberhasilan pemerintah dalam mengatur pemerintahan di sebuah negara adalah berkurangnya kemiskinan dan berkurangnya pengangguran. Namun demikian, faktor penentu seseorang terbebas dari kemiskinan bukan terletak pada tangan pemerintah semata, melainkan faktor utama pada diri manusia itu sendiri.

Hal tersebut dikuatkan oleh sebuah ayat dalam Al Quran yang menjelaskan bahwa “Tuhan tidak akan merubah nasib kaumnya melainkan dirinya sendiri”. Isi ayat tersebut mengandung maksud bahwa setiap diri manusia dituntut untuk berusaha menjadi manusia utuh dalam kehidupannya.

Usaha Budidaya Sapi

Salah satu bentuk usaha manusia dalam memperbaiki kehidupanya yaitu memantapkan ekonominya. Jika seseorang mau mencari ilmu berkaitan dengan perbaikan ekonomi dalam diri manusia, sebenarnya dalam kitab agama, artikel dalam media online, maupun ditempat lainnya telah dipaparkan bidang-bidang penambah penghasilan guna meningkatkan taraf hidup seseorang.

Untuk memfokuskan pada pembahasanya maka dalam artikel ini, menitikberatkan strategi penambah penghasilan melalui budidaya sapi. Budidaya sapi saat ini, sebenarnya masih memiliki prospek yang cerah. Mengapa dapat dikatakan demikian? Ada beberapa alasan, diantaranya:

  • permintaan daging secara nasional sangat begitu banyak terlebih pada saat hari besar agama Islam (idul firi/idul adha).
  • menjamurnya industri kreatif khususnya dibidang kuliner baik di hotel maupun di restoran, sehingga berimplikasi terhadap banyaknya permintaan akan daging sapi.
  • carut-marutnya impor sapi dari luar negeri yang dilakukan pemerintah. Sehingga, mengakibatkan konsumen cenderung mencari sapi lokal dengan kualitas impor guna mencukupi kebutuhannya.

Kebutuhan konsumen Indonesia akan daging sapi disetiap tahun mengalami peningkatan, akan tetapi produksi sapi dalam negeri mengalami penurunan. Pemerintah melalui departemen pertanian, memaparkan secara nasional produksi daging sapi dalam negeri sebagai berikut:

  • tahun 2008 sejumlah 1.930.716 ton.
  • tahun 2009 sejumlah 409.310 ton.
  • tahun 2010 sejumlah 436.452 ton.
  • tahun 2011 sejumlah 485.333 ton.
  • tahun 2012 sejumlah 505.477 ton.

Sumber www.deptan.go.id. Data tersebut, memberikan bukti bahwa prospek beternak sapi masih cerah. Persoalan kemudian, bagi seseorang dalam budidaya sapi adalah pemahaman akan budidaya sapi itu sendiri. Maka dari itu, bagi para calon peternak terlebih dahulu memahami 3 permasalahan terbesar dalam budidaya sapi yaitu:

  • Pemilihan bibit/anakan sapi
  • Pembesaran sapi
  • Strategi penjualan

Ketiga permasalahan berkaitan dengan budidaya sapi tersebut, penulis dapat melalui pengamatan disaat menjadi staff pengelola kelompok peternak Desa Sidorejo Kecamatan Bendosari Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah dari tahun 2010-2012.

Pemilihan Bibit Sapi

Agar lebih jelas mengenai permasalahan budidaya sapi, terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai permasalahan terbesar yang pertama adalah pemilihan bibit sapi. Ada banyak jenis sapi seperti sapi limosin, sapi bali, sapi lokal, sapi perah, sapi pedaging dan masih banyak lainnya. Sebagai pembudidaya sapi pemula terlebih dahulu membuat konsepnya, sebab sebagian besar pembudidaya sapi dapat digolongkan menjadi 3 bentuk usaha (model pembesaran, model pembibitan dan model pemotongan sapi).

Dikatakan model pembesaran yaitu peternak membeli bibit dari peternak lain kemudian pada waktu yang telah ditentukan rata-rata 1-2 tahun hasil pembesarannya kemudian dijual. Model berikutnya, model pembibitan mengandung maksud peternak memelihara indukan sehingga peternak berusaha memelihara sebaik mungkin.

Setelah itu jika telah memasuki masa kawin, peternak dapat meminta bantuan dari dinas peternakan untuk dilakukannya kawin suntik. Model terakhir yaitu model pemotongan sapi, di Jawa sering disebut rumah pemotongan/penjagalan, maksudnya peternak hanya sebatas menerima/mencari sapi yang telah siap kemudian peternak melakukan pemotongan dan menjualkan daging sapinya.

Berkaitan dengan pemilihan bibit sapi, maka dalam artikel ini diarahkan pada model pembesaran. Kesalahan yang sering terjadi dalam pemilihan bibit adalah 3 hal, yaitu:

  • pembelian bibit yang terlalu mahal
  • bibit/anakan sapi yang terlalu muda
  • kesalahan dalam pemilihan jenis sapi

Kesalahan pertama adalah anakan sapi yang terlalu mahal, maksudnya bahwa peternak harus memiliki gambaran yang jelas, rencana yang jelas dalam proses pembesaran sapi. Misalnya, proses pembesaran membutuhkan waktu 1,5 tahun dan diperkirakan harga jual sapi nantinya 15 juta maka peternak harus mencari harga anakan sapi dibawah 10 juta, alangkah baiknya lebih murah lagi.

Mengapa demikian? Dalam pembesaran sapi akan mengeluarkan banyak pengeluaran diantaranya pakan ternak (jerami, brand, bekatul), perangsang/ penggemuk sapi (garam grosok, tetes tebu), biaya perawatan (vaksinasi), biaya pemelihara (karyawan).

Kesalahan kedua dalam pemilihan bibit/anakan sapi adalah anakan terlalu muda, maksudnya peternak diusahakan memilih bibit/anakan sapi yang cukup umur (lepas dari susu induknya). Orang Jawa menyebutnya “sudah dikeluh”. Selama ini sering ditemukan peternak mengalami kerugian besar ketika memilih anakan yang terlalu muda, sebab anakan yang terlalu muda sangat rentan penyakit, tidak cepat gemuk bila tidak mendapat asupan susu dari induknya.

Kesalahan ketiga dalam pemilihan bibit/anakan sapi adalah pemilihan jenis sapi, terkadang peternak tidak mengindahkan jenis sapi yang dibudidayakannya. Padahal, salah menentukan bibit sapi akan berakibat pada berbagai hal.

Diantaranya lama pembesaran, besar sapi yang dihasilkan dan sebagainya. Untuk itu seorang peternak dalam memilih jenis sapi disesuaikan dengan kandang, tempat peternakan, ketersedian pakan serta jenis sapi yang paling dibutuhkan oleh konsumen. Maka dari itu, peternak perlu mempelajari jenis sapi beserta karakternya.

Pembesaran Anakan Sapi

Pada tahap inilah yang menentukan besar/kecilnya ukuran sapi. Untuk menghasilkan sapi yang istimewa (berbobot dan memiliki kualitas daging yang baik) diperlukan strategi pembesaran berikut:

  • buatlah kandang sapi sebaik mungkin, secara global dikatakan kandang yang baik harus bersih, luas, serta memiliki tempat makan dan minum yang baik, untuk lebih lengkapnya dapat menanyakan pada dinas peternakan.
  • asupan makanan yang baik, untuk makanan diusahakan yang hijau-hijauan (rumput gajah), andaikan tidak ada, dapat diganti dengan jerami, fermentasi jerami, selain itu ditambah asupan lain meliputi pemberian dedak, brand, bekatul, tetes tebu serta penyampuran garam kasar ke dalam minuman sapi.
  • perawatan dan pemeriksaan kesehatan, peternak penting mempelajari berbagai hal tentang penyakit sapi dari kaki lumpuh, gigitan nyamuk, flu, kurang nafsu makan dan sebagainya.

Maka dari itu penting untuk memiliki pemahaman akan penyakit sapi serta peka terhadap gerak-gerik sapi. selanjutnya tidak kalah pentingnya peternak harus memiliki penjawalan harian dalam perawatan sapi mulai dari pengecekan pagi, siang dan sore.

Strategi Penjualan

Peternak sapi pemula terkadang akan sering mengalami kerugian dalam menjual ternak sapinya. Kerugian tersebut diakibatkan oleh ketidak tahuan peternak dalam menentukan pangsa pasar, ketidak tahuan mengenai waktu yang tepat dalam penjualan, seperti:

menentukan pangsa pasar

Jika sapi itu merupakan sapi pedaging, maka dapat bekerjasama dengan rumah pemotongan serta ikut koperasi peternak sapi, jika tidak ada bisa dijual secara langsung ke konsumen, bisa datang ke pasar sapi atau merintis kerjasama dengan restoran/hotel. Namun perlu diketahui apabila menjual sapi ke pasar, terlebih dahulu lakukan survey dan jangan membawa sapi sebab hampir di semua pasar ada tengkulan/ di Jawa namanya “blantik” yang terkadang melakukan penipuan.

Ketidak tahuan waktu yang tepat menjual sapi

Apabila Anda memiliki rumah pemotongan sapi, maka hal ini tidak menjadi kekhawatiran. Namun, bagi peternak yang tidak memiliki pangsa pasar (restoran, tempat pemotongan hewan dan kerjasama dengan pemerintah), maka peternak harus faham keadaan di wilayahnya.

Ambil contoh di Jawa: biasanya harga sapi/ternak pada bulan juni-agustus disaat pendaftaran siswa baru, harga ternak relatif murah, sedangkan jika mendekati hari besar Idul Adha, biasanya harganya mahal. Selain itu, di Jawa jual beli sapi disetiap pasar mengikuti pasaran jawa, jadi tidak semua pasar sapi bertransaksi pada setiap harinya.

Menjadi seorang manusia wajib untuk berusaha, maka dari itu tidak ada salahnya jika usaha bertenak sapi segera dicoba. Perlu diingat ilmu adalah faktor kesuksesan sebuah usaha, maka dari itu peternak pemula perlu mencari ilmu sebanyak-banyak dari hulu sampai hilir dalam beternak sapi.

Penulis dalam hal ini, sebatas memberikan rambu-rambu dalam beternak sapi diharapkan dengan adanya tulisan ini dapat membuat kerangka konsep yang tepat dalam belajar dan praktik beternak sapi. Selamat belajar semoga sukses. Demikianlah pembahasan mengenai budidaya sapi yang dapat disampaikan, semoga bermanfaat.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *